berikut ini saya share beberapa skema dan rangkaian led vu meter / led vu display bagi anda penggemar audio
Kamis, 19 Maret 2015
COMPRESSOR AUDIO
Hari ini saya coba berbagi tentang ragkaian
COMPRESSOR AUDIO, dimana compressor audio ini secara umum berfungsi untuk mengkompresi
(meratakan) sinyal audio yang tidak stabil menjadi lebih stabil dan audio yang
nantinya keluar pada loudspeaker menjadi lebih bertenaga atau dalam artian lain
tidak terdengar lemas.
Skema Rangkaian
Tata letak Komponen
PCB layout 1 dan KIT
compressor yang telah jadi
PCB layout 2 dan KIT
compressor yang telah jadi
Daftar Komponen :
- R1,
R3 - 10K
- R2
- 1K
- R4,
R5 - 1M
- R6
- 18K
- R7,
R8, R15-R17, R19 - 33K
- R9
- 1M5
- R10,
R12, R14, R18 - 470R
- R11
- 270R
- R20,
R23, R25 - TRIMPOT 5K
- R21
- TRIMPOT 5M
- R22
- TRIMPOT 1K
- R24
- TRIMPOT 500R
- C1
- 4N7 YADA 6N8 , MYLAR
- C2
- 470N MYLAR
- C3
- 4N7 MYLAR
- C4
- 330N MYLAR
- C5,
C7, C8, C12 - 10N SERAMIK
- C6
- 22N KERAMIK
- C9
- 330P KERAMIK
- C10
- 470P KERAMIK
- C11
- 82P KERAMIK
- C13
- 10U/25V TANTALYUM
- C14
- 470U/25V
- C15,
C16 - 220U/10V
- U1
- TLC272
- U2
- 78L05
- Q1
- BC557B
- Q2
- BF245C
Rangkaian Mixer Audio Stereo dengan Catu Daya Tunggal +12V
Membuat Audio Amplifier Menghasilkan Suara yang Kompak, namun
katakanlah kita tidak mempunyai jenis catu daya mode ganda atau simetris (+6V
dan -6V) untuk supply rangkaian tersebut, dan yang tersedia catu daya mode
tunggal (misalnya +12V). Bagaimana mengatasinya?
Komponen utama rangkaian mixer audio adalah sebuah IC op-amp, dan IC op-amp ini bisa beroperasi pada jenis catu daya simetris maupun jalur catu daya tunggal, lihat di artikel Konsep Pencatuan Op-amp. Bila kita mengukur titik tegangan +V dan -V pada catu daya simetris akan menghasilkan +6V - (-6V) = +12V. Tegangan +12V tersebut kita gunakan untuk jalur catu daya mode tunggal, sebagai pencatuan mixer op-amp. Perhatikan gambar rangkaian mixer audio stereo 3 channel dengan operasi jalur catu daya tunggal +12V di bawah ini

Daftar komponen:
o R7 - R8 = Resistor 100
kΩ
o R9 - R10 = Resistor 18
kΩ
o C1 = Elco 100 µF/16V
o VR1 = Variabel
Resistor (potensiometer) 50 kΩ mono
o VR2 - VR3 = Variabel
Resistor (potensiometer) 50 kΩ stereo
o IC1 = IC 4558 (Op-amp 8 pin)
Minggu, 30 November 2014
upgrade vega zr korek harian
hai sob...jumpa lagi dengan saya di blog saya tercinta ini dalam blog cah bojonegoro kali ini saya akan posting lanjutan dari postingan saya yang lama tentang vega zr yang telah saya upgrade lagi.
dan berikut ini spesifikasi motor saya :
dan berikut ini spesifikasi motor saya :
* piston kaze oversize 50
* papas camshaft
* porting polish
* knalpot freflow
* karbu standar smash titan reamer
* pengapian custom fullwave
* cdi custom
* final gear 15-42
* kopling manual, dll
dan alhamdulillah untuk top speednya nyampek 135km/jam bro......ini ke dua kalinya saya modif mtor bebek setelah mtor saya yang dulu yaitu dari produk happy model vega r yang telah saya modif extrim untuk spek liaran 201m dngan part pendukung daytona dan kawahara pada tahun 2008 dan kali ini saya upgrade vega beneran hehe dengan spek korek harian buat nyantai....
sekian postingan kali ini jika ada kesalahan dalam penulisan dalam blog ini yng kurang pantas saya mohon ma'af...keep safety riding
Rabu, 01 Oktober 2014
skema dan rangkaian inverter DC ke AC
Jumat, 19 September 2014
Macam Alat Ukur Elektronik Beserta Fungsinya
Alat Ukur Elektronika dan Fungsinya
Alat ukur elektronik (listrik) merupakan perkakas/alat yang digunakan untuk mengukur besaran-besaran listrik seperti hambatan listrik (R), kuat arus listrik (I), beda potensial listrik (V), daya listrik (P), dan lainnya. Terdapat dua jenis alat ukur yaitu alat ukur analog dan alat ukur digital.
Berikut adalah macam-macam alat ukur listrik :
7. Wattmeter
Wattmeter adalah alat ukur untuk daya listrik. Sebetulnya wattmeter adalah gabungan dari alat ukur listrik dengan alat ukur tegangan listrik, namun dirancang sedemikian rupa sehingga penunjukkannya menunjukkan nilai daya listrik yang terpakai.
Alat ukur elektronik (listrik) merupakan perkakas/alat yang digunakan untuk mengukur besaran-besaran listrik seperti hambatan listrik (R), kuat arus listrik (I), beda potensial listrik (V), daya listrik (P), dan lainnya. Terdapat dua jenis alat ukur yaitu alat ukur analog dan alat ukur digital.
Berikut adalah macam-macam alat ukur listrik :
- Amper-meter
- Voltmeter
- Ohm-meter
- Multimeter Analog/Digital
- Oscilloscope
- Generator fungsi
- Digital Signal Analyzer
- Spectrum meter
- dll
1 Ampermeter
Amperemeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik baik untuk listrik DC maupun AC yang ada dalam rangkaian tertutup. Amperemeter biasanya dipasang berderet dengan elemen listrik. Cara menggunakannya adalah dengan menyisipkan amperemeter secara langsung ke rangkaian.
Amperemeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kuat arus listrik baik untuk listrik DC maupun AC yang ada dalam rangkaian tertutup. Amperemeter biasanya dipasang berderet dengan elemen listrik. Cara menggunakannya adalah dengan menyisipkan amperemeter secara langsung ke rangkaian.
2. Voltmeter
Voltmeter adalah alat/perkakas untuk mengukur besar tegangan listrik dalam suatu rangkaian listrik. Voltmeter disusun secara paralel terhadap letak komponen yang diukur dalam rangkaian. Alat ini terdiri dari tiga buah lempengan tembaga yang terpasang pada sebuah bakelite yang dirangkai dalam sebuah tabung kaca atau plastik. Lempengan luar berperan sebagai anode sedangkan yang di tengah sebagai katode. Umumnya tabung tersebut berukuran 15 x 10cm (tinggi x diameter).
3. Ohm-meter
Ohm-meter adalah alat untuk mengukur hambatan listrik, yaitu daya untuk menahan mengalirnya arus listrik dalam suatu konduktor. Besarnya satuan hambatan yang diukur oleh alat ini dinyatakan dalam ohm. Alat ohm-meter ini menggunakan galvanometer untuk mengukur besarnya arus listrik yang lewat pada suatu hambatan listrik (R), yang kemudian dikalibrasikan ke satuan ohm.
4. Multitester Analog/Digital
Multimeter adalah alat untuk mngukur listrik yang sering dikenal sebagai VOAM (VolT, Ohm, Ampere meter) yang dapat mengukur tegangan (voltmeter), hambatan (ohm-meter), maupun arus (amper-meter). Ada dua kategori multimeter: multimeter digital atau DMM (digital multi-meter)(untuk yang baru dan lebih akurat hasil pengukurannya), dan multimeter analog. Masing-masing kategori dapat mengukur listrik AC, maupun listrik DC.
5. Oscilloscope
Oscilloscope/osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar katode. Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar katode. Sorotan elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari.
6. Generator fungsi
Generator fungsi adalah alat ukur yang digunakan sebagai sumber pemicu yang diperlukan, merupakan bagian dari peralatan (software) uji coba elektronik yang digunakan untuk menciptakan gelombang listrik. Gelombang ini bisa berulang-ulang atau satu kali.
Wattmeter adalah alat ukur untuk daya listrik. Sebetulnya wattmeter adalah gabungan dari alat ukur listrik dengan alat ukur tegangan listrik, namun dirancang sedemikian rupa sehingga penunjukkannya menunjukkan nilai daya listrik yang terpakai.

8. Wattjam / Watthour Meter
Wattjam adalah alat ukur energi listrik. Wattjam (Wh = watt-hour) atau kilowatt-jam (kWh) sebetulnya alat ukur listrik yang banyak terpasang di setiap rumah. Kita sering salah memahami mengira bahwa alat ukur yang terpasang dirumah adalah alat ukur daya listrik. Padahal sebetulnya alat ukur listrik yang terpasang dirumah kita itu adalah Wattjam. Angka penunjuk pun menyatakan nilai energi listrik yang terpakai dalam rentang waktu tertentu.

9. Megger
Megger dipergunakan untuk mengukur tahanan isolasi dari alat-alat listrik maupun instalasi-instalasi.
Megger ini banyak digunakan petugas dalam mengukur tahanan isolasi antara lain untuk:
- Kabel instalasi pada rumah-rumah / bangunan.
- Kabel tegangan tinggi.
- Kabel tegangan rendah.
- Transformator.
- Dan peralatan listrik lainnya.

Senin, 07 Juli 2014
cara membuat cdi ac unlimiter
Selama bertahun-tahun sistem
pengapian CDI (Capasitor Discharge Ignition) menjadi misteri dalam dunia
elektronika otomotif, jika pun ada yang mampu membuatnya, itu hanya replika
atau rangkaian yang mendekati. CDI selain misteri dalam rangkaian juga misteri
dalam komponen, karena untuk beberapa jenis komponen yang ada dalam built-in
CDI pabrikan tidak tersedia dipasaran. Mungkinkah nomor seri komponen diubah
oleh pabrikan atau memang pabrikan memiliki blue-print sendiri mengenai
komponen dengan nomor seri tertentu? Entahlah, yang jelas sampai hari ini pun
masih banyak perusahaan otomotif yang menyembunyikan cetak biru dari komponen
CDI. Terlepas dari kontroversi tentang CDI pabrikan, pada kesempatan kali ini
penulis akan berbagi tips dan trik cara membuat sendiri CDI untuk motor bensin
berkapasitas kecil. Rangkaian ini telah di coba di lab pribadi dan sampai hari
ini masih diujicoba tanpa menemukan kendala berarti. Modul CDI yang akan kita
buat, penulis adopsi dari situs siliconchip yang dibuat oleh John Clarke.
Sebelum panjang lebar membahas
tentang Modul CDI ini mungkin ada yang bertanya, berapa harga yang dihabiskan
untuk membuat Modul CDI ini? Jangan kaget, dengan kualitas rangkaian dan
komponen yang hampir sama dengan versi original, kita hanya mengeluarkan dana
sebesar kurang dari Rp. 50.000,-, bandingkan dengan Modul CDI original pabrikan
yang dibandrol hampir Rp. 500.000,-. Perbedaan harga inilah yang kadang kita
pertanyakan dan membuat kita terheran-heran, bahkan logika kita saja kadang
tidak bisa membenarkan harga yang dibanderol untuk Modul CDI pabrikan.
CDI merupakan perbaikan besar dalam
sistem pengapian magnet. Modul CDI selain mampu memberikan kualitas percikan
yang stabil juga mampu menjaga titik poin yang tepat, tahan lama, bebas
perawatan, tidak diperlukan penggantian periodik, dan bebas penyetelan.
Salah satu kelemahan CDI adalah bahwa
Modul CDI ini tidak bisa bertahan selama-lamanya, mungkin saja gagal bekerja
ditengah perjalanan. Kegagalan fungsi mungkin saja berasal kumparan pembangkit
(generator coil), koil pengapian (ignition coil), atau mungkin saja dari modul
CDI itu sendiri. Dan jika itu terjadi berarti kita harus mempersiapkan dana
penggantian yang tidaklah murah.
Modul CDI yang akan dijelaskan dapat
digunakan sebagai unit pengganti modul CDI asli pabrikan yang sudah tidak mampu
bekerja dengan baik. Modul CDI ini berpadu selaras dengan generator AC yang
kemudian memicu koil untuk memberikan tegangan tinggi dan akhirnya memercikan
bunga api melalui busi untuk membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah
terkompresi pada ruang bakar. Sebagian besar sistem pengapian CDI bekerja
dengan cara kerja yang sama namun mungkin saja terdapat variasi dalam
desainnya. Pada beberapa modul CDI yang tersedia dipasaran ada yang menggunakan
metode polaritas terbalik dalam membangkitkan tegangan, dan dalam kasus ini
modul CDI yang akan kita buat tidaklah cocok.
Saya sebagai penulis artikel ini
tidak bisa menjamin bahwa modul CDI ini mampu bekerja pada semua jenis mesin.
Namun, karena modul CDI ini menggunakan komponen murah dan tersedia banyak
dipasaran, mungkin anda patut untuk mencobanya dari pada harus mengeluarkan
uang lebih banyak untuk menebus modul CDI original.
Susunan rangkaian yang paling sederhana
untuk modul CDI diperlihatkan pada Gambar 5. Tegangan dan lilitan pembangkit
(Generator) mengisi kapasitor C1 (dan C2) melalui dioda D1 dan mengalir menuju
lilitan primer. Sedangkan D2 seperti dijelaskan diatas digunakan untuk
mengalirkan arus balik dari ignition coil setelah kapasitor kosong.
Dua resistor 1mw dirangkai seri pada
kedua kaki kapasitor (C1) yang digunakan untuk mengosongkan kapasitor jika SCR
tidak nonaktif. Ini digunakan sebagai fitur keamanan yang mencegah kejutan
listrik ketika anda menghubungkan kapasitor. Dibutuhkan sekitar 2 detik untuk
pengosongan total kapasitar pada kapasitor hingga mencapai nilai aman.
Telah disediakan tempat penyimpanan 2
kapasitor (discharge) pada PCB yang bisa anda unduh pada link dibawah, yaitu
untuk posisi C1 dan C2. Kita biasa menggunakan dua kapasitor 0.47mf atau dua
kapasitor 1mf. Sebuah kapasitor dengan kapasitas tinggi akan menghasilkan
energi percikan yang lebih baik dan lebih besar, asalkan lilitan pembangkit
(generator) mampu mengisi kapasitor dengan maksimal dalam waktu yang
diperlukan.
Pulser memberikan sinyal untuk memicu
SCR. Ketika tegangan positif mengalir dari pulser, maka asupa tegangan akan
memicu gate SCR melalui resistor 51 ohm dan dioda D3 (pada gambar rangkaian
tertulis D5). D3 mencegah tegangan balik dari gate sedangkan resistor 51 ohm
membatasi tegangan yang mengalir ke gerbang agar mengalirkan nilai tegangan
aman. Sebuah resistor 1k ohm berfungsi untuk menghubungkan gate ke ground
(masa) hal ini untuk mencegah pemicu palsu, sedangkan kapasitor 100nF digunakan
sebagai filter noise dan transien yang dapat menyebabkan SCR terpicu pada waktu
yang salah.
Sebuah saklar (kill switch) digunakan
untuk mematikan generator dengan cara mengalirkan arus ke ground sehingga motor
berhenti beroperasi.
Rangkain serderhana pada Gambar diatas sebenarnya
sudah mampu bekerja dengan baik, namun tambahan sirkuit mampu meningkatkan
kinerja modul CD sehingga lebih konsisten.
Jika D1 memiliki kemampuan 1000 Volt,
D4 digunakan untuk sebagai pengendali tegangan diatas maksimum yang bisa saja terjadi,
sehingga tegangan yang mengalir ke dioda D1 akan stabil pada kisaran 350 Volt,
hal ini berarti mengurangi kemungkinan kerusakan pada dioda.
Pemicu pada rangkaian ini juga telah
ditingkat melalui dua cara, yaitu:
Pertama, dengan ditambahkan sebuah kapasitor
10mF secara seri pada gate dari SCR. Kapasitor ini mencegah pemicu palsu karena
ketidakseimbangan DC dari pulser yang mungkin saja kelebihan positif dari
seharusnya karena sisa kemagnetan pada inti lilitan pembangkit. Resistor 1k ohm
dipasang paralel pada kapasitor yang digunakan untuk mengosongkan muatan pada
kapasitor yang bisa saja muatan sisa tersebut cukup tinggi hingga bisa memicu
SCR. Dioda D5 mencegah kapasitor 10mF dari pengisian polaritas terbalik yang
datang ketika pulser menghasilkan tegangan negatif.
Kedua, ditambahkan sebuah Negative
Temperature Coefficient (NTC) pada gate SCR. Thermistor (nama lain NTC) ini
mengurangi resistansi secara bertahap sesuai dengan peningkatan suhu, ini
digunakan untuk mengimbangi penurunan kebutuahn picuan pada SCR (baik tegangan
dan arus) pada suhu yang lebih tinggi. Secara efektif, thermistor NTC membagi
tegangan dengan resistor 51 ohm. Pada suhu 25oC, thermistor
adalah 500 ohm sehingga melemahkan sinyal dari kumaparan pemicu hingga 91%.
Namun pada suhu 100oC, nilai resistansi thermistor
NTC mencapai 35 ohm dan sinyal picu dibagi sebesar 41% dari nilai yang
dihasilkan Pulser.
Pengelolan dalam tingkatan sinyal
dilakukan untuk menyetel SCR dengan mengurangi tingkatan kebutuhan picu pada
temperatur tinggi. Ketika terjadi kenaikan suhu, sinyal akan lemah sebagai
konsekwensinya, maka SCR dan pulser bekerja pada tegangan yang sama dalam
rentang temperatur yang lebih luas. Tanpa thermistor, SCR akan mengalami
perubahan waktu (timing) akibat perubahan suhu.
sekian postingan dari saya, dan nantikan postingan saya selanjutnya.....
Langganan:
Postingan (Atom)

















































